Hari ini banyak pelajaran berharga yg saya dapatkan, yaitu apa itu Orang Tua?
Pagi tadi ketika saya masuk kehalaman parkir PT Indosat di ringroad saya dikejutkan oleh suara sepeda motor yg jatuh beberapa meter dari pos penjagaan kantor Indosat.Seorang bapak paruh baya terjatuh dari motornya, sambil duduk sebentar disamping motornya dia melihat sekeliling. Entah bagaimana kejadian pastinya, karena saya pun terhalang tembok untuk bisa melihat keluar. Beberapa security yg membantu menolong juga tidak pasti bagaimana kejadian awalnya, namun disimpulkan (sendiri) kemungkinan licinnya jalan karena berpasir di depan kantor Indosat membuat bapak tersebut terjatuh. Melihat tangan dan pipinya yg terluka dan sedikit berdarah membuat saya lemas. Saya paling tidak bisa melihat darah. Kecuali inul darahtista..*plak* *dilempar kumis suaminya* Baju sang Bapak pun lusuh dan kotor karena posisi jatuh yg lumayan banyak pasir dan genangan air dipinggir jalan. Ketika petugas security membawa sang Bapak masuk ke ruang penjagaan saya melanjutkan pekerjaan saya yg memang sudah ada janji dengan salah satu staff Indosat. Urusan dengan staff Indosat kelar, saya bergegas kembali ke kantor. Namun sesampainya saya dihalaman parkir, saya menemukan sang Bapak yg jatuh tadi terlihat bingung sambil memegang hp ditangannya dan sesekali mengusap lengannya. Ketika saya mengembalikan nametag visitor ke petugas security saya menanyakan, bagaimana keadaan Bapak tersebut. “Bapak itu tadi jatuh di depan Mas”
“Oh, iya Pak..saya juga liat ketika dibantu masuk sini”
“Sekarang bapak itu bingung”
“Kenapa?”
“Dia sendiri bertanya, saya ini kenapa?? Gitu..”
“Wahh..amnesia yah?”
“Siapa itu?”
“Ehh..kok siapa? *security dodol* Maksudnya lupa ingatan”
“Iya Mas”
“Coba ditelpon keluarganya Pak”
“Iya nih Mas, ini lg nunggu kawan saya datang. Saya ga ada pulsaaaaaa” *kemudian pingsan* *ini iklannnnn*
“Kalo tdk terlihat nama keluarganya, diliat history terakhir hp’nya siapa yg terakhir beliau hubungi”
“Itu teman saya Mas” ..Teman security yg sama-sama security (kok tau? Kan bajunya security juga sama cuy!) mendatangi Bapak yg sedang duduk kebingungan. “Mana Pak hp’nya saya bantu nelp keluarganya”
“Iya” dengan wajah yg masih menahan sakit dan sesaat itu juga saya….teringat Ayah saya.
“Haloo..ini bapaknya jatuh. Iya, bapaknya. Bapaknya sapa? Ya ga tau? Ini tadi bapaknya yg punya hp nelp terakhir ke nomor ini jatuh di depan kantor Indosat ringroad” Saya bingung dengan kalimatnya, tapi untung yg ditelpon sepertinya punya indra keenam yg langsung tanggap mengerti arti pembicaraan security itu. Dan saya masih mengerutkan dahi untuk mengerti security itu ngomong apa. “Mas-nya yg jawab telpon tadi mau kesini. Bapak tungguin saja yah?”
“Iya..” Dan wajah Bapak itu masih tetap seperti sebelumnya. Tanpa ekspresi. Saya mendekati beliau
“Bapak klo merasa ada yg sakit dibagian dalam tubuhnya langsung kerumah sakit yah?”
“Iya..” Sambil menatap saya tajam. Saya kembali trenyuh. Ingat Ayah saya. …Dan beberapa saat setelah itu saya kembali ke kantor dengan perasaan “Saya tidak ingin Ayah saya jatuh diantara orang lain yg tidak dikenalnya” Kenapa? Tapi keraguan saya kembali sirna karena saya paham sekali Ayah saya ketika dia sedang berjalan sendiri. Apalagi ketika beliau sedang olahraga jalan pagi saat beliau masih kuat jalan puluhan kilometer keliling kota Malang.
Ayah saya selalu membawa hp’nya di tas kecil yg ditaruh didepan perutnya. Beberapa kartu namanya disaku celananya. Kenapa bawa kartu nama? Simple! Ketika ada apa-apa orang bisa tau dimana Ayah saya tinggal. Sejak kejadian itu, saya kembali berdoa untuk Tuhan memberikan kesehatan yg jauh lebih baik untuk orang tua saya. …Dan sorepun berlalu. Saya berada dirumahsakit Pertamina untuk menjenguk nenek dari Sahabat saya. Kami memanggilnya Mbah Wedo’ yg berasal dari bahasa Jawa yg artinya Nenek Perempuan. *emang ada Nenek laki? Kakek kaleee…yasudahlah* Mbah Wedo’ sedang terbaring lemah ditempat tidur dengan tangan kanan yg terpasang infus. Tubuhnya yg renta membuat saya sedih karena harus beristirahat dirumah sakit, karena saya mengenal beliau adalah seorang wanita tua yg cukup segar badannya. Usianya memungkinkan beliau seperti ini sekarang. Saya dekati beliau dan memegang pergelangan tangannya. Sesaat itu hati saya berkata “Kasihan mbah. Tetap kuat yah mbah” Saya pandangi wajah beliau, sesekali saya ajak bercanda seperti biasanya. Keakraban saya dengan beliau memang lebih ‘lunak’ dengan cara bercanda. Gaya bicara beliau ketika sedang bercerita, menanggapai guyonan saya, menjawab pertanyaan…sama layaknya ketika beliau sedang sehat. Namun… Beberapa kali saya menangkap pembicaraan beliau ketika berbicara dengan anak perempuannya yaitu Ibu Angkat saya melalui telepon, seperti ada kerinduan tersendiri untuk bisa dijenguk. Sesekali sindiran beliau untuk anaknya pulang terasa berulang kali. Ibu angkat saya adalah anak perempuan yg memang paling dekat dengan Mbah Wedo. Saat itulah saya memahami arti pentingnya seorang anak yg dianggap sebagai sahabat oleh orang tuanya. Gmana sih seorang sahabat itu?
Ga ada penghalang untuk bercerita semuanya. Saling menghadapi masalah bersama. Sesekali menangis bersama. Banyak kali gembira bersama. Itu yg saya kenal dari Ibu angkat saya dengan orang tuanya, Mbah Wedo’. …
Saya, sangat mencintai orang tua saya.
Orang tua saya banyak. Saya mencintai mereka dengan porsi masing-masing sebagai pribadi yg mengenal saya sebagai anaknya. Tak pernah malu kalau saya berasal dari orang tua yg mana, dibesarkan siapa, dan hidup dengan siapa. Semua orang tua saya adalah bayangan saya dimana pun saya berada. Ditempat gelap sekalipun, saya akan berusaha mencari bayangan saya untuk bisa tau bahwa disitu terletak sinar terang. Jangan pernah menyia-nyiakan perkataan orang tua.
Jangan pernah sakit hati berkepanjangan dengan orang tua.
Mudah memaafkan dan mencintai semudah mereka melahirkan, merawat, dan memberi kita nafkah. Posted by.
Yus Kristiono
